Yang Mulia Luangpu Pramote Pamojjo
10 Maret 2025
Wat Suan Santidham, Thailand
Alih Bahasa: Shi Ne Ling

Tubuh ini sedang mengalami flu berat, tidak bisa bicara selama beberapa hari. Suara masih serak, cuaca hari ini agak lembap.
Jangan titipkan hidupmu kepada Luangpu. Bahkan Luangpu pun tidak terlepas dari usia tua, sakit, dan kematian. Harus bisa mengandalkan diri sendiri.
Langkah awal adalah menjaga lima sīla dengan baik. Jika sīla rusak, latihan batin tidak akan berkembang, samādhi akan hancur seketika. Karena itu, tekunlah menjaga sīla. Lima sīla saja sudah cukup. Berlatih Dhamma tanpa sīla itu sungguh tidak mungkin dilakukan.
Kemudian latihlah kebiasaan untuk mempraktikkan Dhamma setiap kali ada kesempatan. Miliki sati untuk menyadari tubuh dan batin diri sendiri secara terus-menerus.
Banyak umat, termasuk juga para bhikkhu, yang setelah berlatih bhāvanā (latihan batin) berkembangnya sangat lambat atau bahkan tidak berkembang sama sekali. Karena setelah berlatih, mereka berhenti; berlatih lagi, lalu berhenti lagi. Saat bertemu guru, barulah mereka rajin berlatih batin. Begitu tidak lagi di hadapan guru, mereka pun menjadi malas dalam latihan batin. Saat ada kesempatan untuk berlatih batin,
itu malah disia-siakan begitu saja.
Seperti saat kita duduk di balai ini. Setelah duduk, batin pun mulai melayang, memikirkan ini dan itu tanpa henti. Kita membuang waktu begitu saja.
Saat kita makan, batin kita menyukai makanan: Suapan ini kita suka, suapan itu tidak kita sukai. Setiap suapan makanan, perasaan kita tidak sama. Kita makan sambil ngobrol, maka tidak ada kesadaran. Lalu kita pun lengah, terlena dalam dunia pikiran,
mencari-cari topik untuk ngobrol. Kita tidak menyadari bahwa lidah bersentuhan dengan rasa. Pada setiap suapan, perasaan kita pun tidaklah sama.
Saat naik mobil atau menyetir dan terjebak macet, kita pun merasa jengkel. Jengkel lalu menjadi marah. Saat itu, kita hanya menderita secara sia-sia. Tetapi jika kita melihat kemacetan lalu batin merasa gelisah, dan kita sadar “gelisah”—— itulah praktik Dhamma.
Praktik Dhamma itu tidaklah sulit— yang sulit hanyalah bagi mereka yang tidak melakukannya. Lalu muncul kesalahpahaman bahwa praktik Dhamma hanya dimulai
saat duduk meditasi atau berjalan meditasi. Jika berpikir seperti itu, kesempatan untuk berkembang akan sangat terbatas. Karena sepanjang hari kita terus-menerus dalam keadaan lupa diri.
Karena itu, kita harus bisa mengintegrasikan praktik Dhamma dengan kehidupan sehari-hari. Jika hal ini tidak bisa dilakukan, maka tidak ada jalan untuk mencapai magga-phala (jalan dan hasil).
Luangpu Mun pernah mengajarkan, tetapi Luangpu tidak sempat bertemu langsung dengan beliau. Luangpu mendengar dari Luangpu Suwat. Luangpu Suwat pernah berguru langsung kepada Luangpu Mun. Luangpu Mun berkata bahwa: Terlalu banyak berlatih samādhi membuat perkembangan lambat; terlalu banyak berpikir dan menganalisis membawa pada kegelisahan.
Inti terpenting dari praktik adalah——memiliki sati (kesadaran) dalam kehidupan sehari-hari. Jika ini tidak bisa dilakukan, maka sangat kecil kemungkinannya untuk berhasil mencapainya.
Hanya pandai saat duduk di ruang meditasi saja tidaklah cukup. Waktu yang tersisa seluruhnya dilahap habis oleh kekotoran batin (kilesa). Mengapa kekotoran batin bisa melahap kita? Karena kita menyerah padanya. Kita sendiri yang menyerah kepadanya.
Jika niat sudah bulat, kapan pun ada waktu, akan hadir sati untuk membaca diri sendiri. Jika bisa membaca batin, maka bacalah; Jika belum bisa membaca batin, maka sadari saja tubuh ini. Jangan biarkan batin hanyut dalam pikiran ke sana ke mari yang tidak bermanfaat.
Sejak Luangpu berguru kepada Luangpu Dune, lalu mulai mengamati batin sendiri tanpa henti. Setiap ada waktu, langsung mengamati; dimulai sejak bangun tidur. Begitu bangun, batin langsung bersentuhan dengan pikiran—— Oh, hari ini hari Senin, harus buru-buru berangkat kerja. Dulu di Bangkok, hari Senin lalu lintas sangat macet. Langsung tergesa-gesa dan panik, takut tidak sempat pergi kerja. Melihat bahwa batin sedang khawatir, takut tidak bisa pergi kerja. Saat akan mandi, buang air atau melakukan apa pun, teruslah mengamati perasaan diri sendiri.
Pernah ada seorang bhikkhu yang menjadi pelayan guru bertanya kepada Luangpu, Waktu itu Luangpu belum ditahbiskan. Beliau bertanya, “Bagaimana Anda, sebagai umat, bisa berlatih? Dalam satu tahun latihan, Anda memperoleh lebih banyak daripada yang dicapai oleh para bhikkhu dalam 10 atau 20 tahun.”
Luangpu menjawab bahwa saya berlatih sepanjang hari. Berlatih sepanjang hari bukan berarti—— tidak bekerja atau mencari nafkah. Saat kita bekerja mencari nafkah, meskipun melakukan pekerjaan yang menuntut banyak pemikiran, kita tetap menjalankan tugas kita dalam kehidupan duniawi ini. Namun waktu yang tersisa adalah sepenuhnya waktu untuk berlatih.
Dulu, Luangpu bekerja di Dewan Keamanan Nasional, harus melakukan koordinasi, mengumpulkan data, dan menyelenggarakan banyak rapat. Sebagian besar waktu habis untuk pekerjaan utama, yaitu rapat, menggalang ide dan data dari berbagai instansi pemerintah.
Misalnya kita akan mengadakan rapat, tetapi waktunya belum tiba dan para anggota belum hadir semua. Apa yang kebanyakan orang lakukan adalah duduk mengobrol dan minum kopi, menunggu……Waktu pun habis begitu saja, kadang menunggu sampai 10 atau 20 menit.
Luangpu tidak menyia-nyiakan waktunya begitu saja. Saya juga minum kopi seperti orang lain, duduk minum kopi, tetapi saya terus membaca perasaan diri sendiri. Duduk menunggu, batin merasa penasaran: Hari ini, siapa yang akan dikirim oleh instansi pemerintah ini untuk rapat? Kalau yang datang adalah orang ini, tentu akan sangat baik. Ternyata benar, orang yang kita harapkan datang benar-benar hadir. Hanya itu saja, kita pun merasa gembira. Kita pun menyadarinya.
Atau saat sedang duduk menunggu, muncul rasa penasaran. Ketika muncul rasa penasaran itu, kita melihat bahwa batin menjadi gelisah. Ketika kita menyadari bahwa batin sedang gelisah dan penasaran tentang siapa yang akan datang. Momen ketika kita melihat itulah yang disebut praktik— bukan sekadar duduk diam saja. Duduk sambil membaca perasaan diri sendiri secara terus-menerus.
Begitu melihat wajah orang ini datang untuk rapat, melihatnya saja terasa bosan. Sebagian orang memiliki kedudukan tinggi; saat mereka berbicara, orang lain harus mendengarkan. Tapi sungguh bodoh, sampai-sampai harus menggunakan kata yang seperti itu. Datang lalu berbicara panjang lebar, menghabiskan waktu, tapi tidak ada isinya sama sekali. Tidak ada data sama sekali— ibarat menangkap harimau dengan tangan kosong, tidak membawa apa pun. Tidak ada data yang diberikan, bahkan konsep yang baik untuk menyelesaikan masalah pun tidak ada. Begitu datang, langsung bilang masalahnya banyak——ini bermasalah, itu bermasalah……Kalau hanya pandai mengemukakan masalah, berarti belum mampu bekerja dengan benar. Yang dibutuhkan adalah kepandaian dalam menjawab bagaimana cara menyelesaikan masalah——barulah dianggap mampu.
Misalnya saat kita melihat wajah orang ini dan merasa jengkel, lalu kita sadar “jengkel”—itulah praktik. Bukan berarti jengkel lalu kita berhenti berlatih. Duduk mendengarkan dia berbicara, mata kita terbuka dan melihat seperti biasa, tetapi batin tidak benar-benar mendengarkan— karena kita tahu pembicaraannya tidak bermakna. Melihat orang lain tersenyum, kita pun ikut tersenyum. Mereka mengangguk, kita pun mengangguk demi kesopanan. Namun batin kita tetap berlatih di dalam—siapa yang tahu? Sesekali saja batin dikeluarkan untuk mendengarkan, melihat sudah sampai mana. Oh, masih berputar-putar di tempat yang sama, lalu kembali lagi ke dalam untuk melanjutkan latihan. Bahkan saat berada di ruang rapat pun masih bisa berlatih.
Jadi seperti yang Luangpu lihat, kadang-kadang kalian berjalan di depan vihāra. Tapi batin malah melayang, larut dalam kenikmatan dan rasa Bahagia. Ini tidak bisa dianggap sebagai latihan yang benar.
Saat berjalan di depan vihāra, kadang-kadang cuacanya terasa nyaman, Batin kita merasa bahagia, kita harus sadar bahwa ada kebahagiaan. Teruslah membaca perasaan diri sendiri; Itulah praktik Dhamma dalam kehidupan nyata kita.
Dan praktik dalam kehidupan nyata itu tidak mudah untuk dilakukan. Karena kita menggunakan keenam landasan indera (āyatana); begitu membuka mata kita langsung melihat ini dan itu; Kita mendengar suara ini dan itu, mencium bau, merasakan rasa, mengalami sentuhan melalui tubuh dan batin pun berpikir dan mengingat. Jadi, batin kontak dengan objek melalui enam pintu indera secara silih berganti.
Kalau kita terus-menerus memantau, “Sekarang batin melihat rūpa (bentuk)”——itu tidak realistis. Baru sekejap melihat rūpa, batin sudah beralih mendengar suara. Kalau kita terus mengikuti dan berkata, “Sekarang batin mendengar suara”,—— semuanya terlalu cepat untuk bisa diikuti.
Cobalah sedikit menyesuaikan: selanjutnya, ketika mata melihat bentuk, dan terjadi perubahan di batin kita sendiri. Melihat bunga yang indah, batin merasa suka, sadarilah perasaan “suka” itu. Sadari hanya batin yang satu ini.
Ketika mendengar suara burung bernyanyi, suaranya merdu, batin kita merasa bahagia, sadari bahwa ada kebahagiaan. Inilah yang disebut “praktik Dhamma”.
Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin bersentuhan dengan objek-objek secara alami. Namun setelah kontak itu, muncul perubahan perasaan. Maka, hadirkanlah sati untuk menyadarinya. Inilah inti atau kunci dari pengembangan sati dalam kehidupan sehari-hari: terletak pada membaca batin diri sendiri. Bukan pada memaksakan diri untuk tidak melihat rupa, tidak mendengar suara, tidak mencium bau, atau tidak merasakan rasa.
Tidak perlu menghindar—biarkan bersentuhan dengan objek secara alami. Namun setelah terjadi kontak, batin kita mengalami perubahan. Ketika muncul kebahagiaan, sadari; ketika muncul penderitaan, sadari pula. Saat muncul kualitas batin yang baik (kusala) maupun tidak baik (akusala), sadari saja.
Tak lama kemudian, paññā (kebijaksanaan) akan muncul. Segala sesuatu dalam hidup kita—— semuanya muncul dan lenyap. Inilah yang akan terlihat.
Saat batin memahami titik ini, batin akan hidup di dunia ini dengan sedikit penderitaan. Penderitaan jauh berkurang.
Teruslah berlatih bhāvanā (pengembangan batin); suatu hari nanti, kemelekatan itu akan lenyap. Jika tidak melekat pada tubuh, maka tidak akan menderita karena tubuh. Jika tidak melekat pada batin, maka tidak akan menderita karena batin.
Ketidakterikatan muncul karena kita melihat tilakkhaṇa berulang kali. Lalu kita akan melihat lebih dalam lagi. Sampai akhirnya melihat Empat Kebenaran Mulia (cattāri ariyasaccāni). Menyadari bahwa ketika ada keinginan, maka ada dukkha (penderitaan). Ketika keinginan lenyap, maka dukkha pun lenyap.
Amatilah diri sendiri terus-menerus. Ceramah hari ini cukup sampai di sini saja.
【Tamat】
Pernyataan dari Shi Ne Ling:
Meskipun kami telah berusaha sebaik mungkin, terjemahan ini mungkin belum sepenuhnya mencerminkan makna mendalam dari ajaran Luangpu. Apabila terdapat kekeliruan atau kekurangan, sepenuhnya merupakan tanggung jawab kami.
Video Dhamma: